PSIKOLOGI HIPNOSIS

A.  
Oleh: Kuntjojo

      A.   Pendahuluan
Belakangan ini fenomena hipnosis, yang oleh kebanyakan orang sering disebut hipnotis, semakin dikenal oleh masyarakat antara lain  karena ditampilkannya fenomena tersebut sebagai acara hiburan oleh beberapa stasiun televisi swasta. Reaksi penonton terhadap acara tersebut bermacam-macam, ada yang tak peduli tentang apa itu hipnosis yang penting mereka terhibur, ada yang penasaran, “Kok bisa demikian ya?”, Ada yang menganggap bahwa praktik hipnosis dilakukan dengan memakai kekuatan gaib, mantra-mantra, dst. Ada  pula yang bertanya: “Apakah hipnosis hanya bisa dimanfaatkan untuk keperluan hiburan?” “Apa betul, katanya hipnosis bisa dipergunakan sebagai teknik terapi, bahkan untuk praktik kejahatan?”  Ada pula penonton yang berusaha memahami fenomena tersebut secara ilmiah. Bisakah hipnosis dijelaskan secara ilmiah? 
Bisakah hipnosis dijelaskan secara ilmiah?  Itulah pertanyaan yang sangat menarik untuk dijawab dengan dengan penjelasan karena jawaban terhadap pertanyaan tersebut sekaligus bisa dipakai landasan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan lainnya. Penjelasan ilmiah menuntut dua hal yang tak terpisahkan yaitu penjelasan secara rasional dan bukti secara empiris.      
B.   Pengertian Hipnosis
Istilah hypnosis berasal dari kata hypnos yang merupakan nama dewa tidur orang Yunani. Istilah tersebut diperkenalkan oleh James Braid, seorang dokter bedah ternama di inggris yang hidup antara tahun 1795 – 1860. Kata hypnos dipilih Braid karena seseorang yang berada dalam kondisi hipnosis kelihatannya seperti tidur. Kondisi hipnosis tidak sama dengan tidur. Orang yang sedang tidur tidak menyadari apa yang sedang dialami dan tidak bisa mendengar suara-suara disekitarnya. Sedangkan orang dalam kondisi hipnosis, meskipun tubuhnya beristirahat (seperti tidur), ia masih bisa mendengar dengan jelas dan merespon informasi yang diterimanya.  


Ada beberapa definisi hipnosis yang dibuat oleh para ahli di bidang ini, diantaranya adalah sebagai berikut.
1.    Hipnosis adalah suatu kondisi yang menyerupai tidur yang dapat secara sengaja dilakukan kepada seseorang, di mana seseorang yang dihipnosis bisa menjawab pertanyaan yang diajukan, serta menerima sugesti dengan tanpa perlawanan.
2.    Hipnosis adalah teknik atau praktik dalam mempengaruhi orang lain untuk masuk ke dalam kondisi trance hipnotis
3.    Hipnosis adalah suatu kondisi di mana perhatian menjadi sangat terpusat sehingga tingkat sugestibilitas (daya terima saran) meningkat sangat tinggi.
4.    Hipnosis adalah seni komunikasi untuk mempengaruhi seseorang sehingga mengubah tingkat kesadarannya, yang dicapai dengan cara menurunkan gelombang otak dari beta menjadi alpha dan theta.
5.    Hipnosis adalah kondisi kesadaran yang meningkat.

      C.   Hipnosis Merupakan Fenomena Alami
Kita mengalami kondisi mirip hipnosis minimal 2 kali sehari, yaitu saat kita akan tidur dan bangun tidur tapi masih enggan untuk segera bangun. Pada saat itu tubuh kita dalam keadaan istirahat tapi pikiran masih bekerja walaupun tidak berada dalam kondisi sadar secara penuh. Contoh lain peristiwa hipnosis yaitu ketika kita menonton film. Kita  merasakan tegang, semangat, cemas, sedih, menangis, marah, dan tertawa, padahal kita tidak berhadapan dengan kenyataan, kita tahu bahwa yang kita hadapi adalah cerita fiksi yang ditayangkan melalui media televisi belaka.
Hipnosis adalah fenomena mental alami. Setiap manusia normal punya kemampuan untuk mengalami hipnosis. Kita dapat menolak hipnosis dengan cara mengabaikan semua yang dikatakan hipnotis. Seperti halnya kita bisa menolak untuk tidak hanyut oleh cerita dalam film dengan cara memikirkan hal lain ketika menonton film tersebut. Pada dasarnya siapa saja bisa mengalami kondisi hipnosis dan menjadi seorang hipnotis jika kemauan dan kemampuan untuk belajar sudah dimiliki.
Untuk menjadi hipnotis, tidak diperlukan mantra-mantra, upacara-upacara ritual, sesaji, dst.  Yang dibutuhkan untuk menjadi hipnotis adalah pemahaman yang benar secara ilmiah perihal hipnosis dan belajar melakukan praktik hipnosis berdasarkan pemahaman tersebut.
D.   Memahami Hipnosis Berdasarkan Tinjauan Psikologi
Psikologi merupakan kajian ilmiah mengenai perilaku dan proses-proses mental manusia. Perilaku adalah segala sesuatu yang diperbuat oleh manusia, yang dapat diobservasi, baik yang digerakkan oleh pikiran sadar maupun tidak sadar. Proses mental adalah berbagai proses kognitif, afektif, dan juga motivasi yang tak bisa langsung diketahui oleh orang lain. 
Sebagaimana ilmu-ilmu yang lain, psikologi memiliki fungsi deskriptif, prediktif, dan pengendalian. Fungsi deskripti psikologi berkenaan dengan penjelasan tentang perilaku dan proses-proses mental manusia secara rasional, faktual, detil, dan komprehensif. Fungsi prediktif psikologi adalah perkiraan tentang apa yang akan terjadi dengan perilaku dan proses-proses mental manusia. Sedangkan fungsi pengendalian adalah berkenaan dengan usaha mengarahkan perilaku dan proses-proses mental pada tujuan yang diharapkan dan mencegah terjadinya perilaku dan proses-proses mental yang tidak diharapkan.
Penjelasan tentang objek formal psikologi (perilaku dan proses-proses mental manusia) didasarkan pada konsep-konsep dan teori-teori yang ada pada ilmu ini.  Beberapa konsep dan teori psikologi yang dapat dipergunakan untuk menjelaskan fenomena hipnosis secara ilmiah antara lain sebagai berikut.
1.    Konsep kesadaran dan ketidaksadaran dari Neurosains Kognitif (Cognitive Neuroscience) yang didukung dengan bukti-bukti empiris dengan memakai Electroenchephalograph (EEG), suatu perangkat elektronik untuk merekam gelombang otak yang dapat dipergunakan untuk menjelaskan fenomena hipnosis. Bahwa seseorang yang berada dalam kondisi hipnosis gelombang otaknya pada level theta (frekuensi 4 – 8 Hz.). Seorang hipnotis (yang melakukan praktik hipnosis) dapat menghipnosis seseorang dengan menurunkan gelombang otak subjek dari betha ( < 12 Hz ) ke level alpha (8 – 12 Hz) kemudian theta melalui proses induksi.
2.  Psikoanalisis dari dr. Sigmund Freud bisa menjelaskan  dinamika perilaku dan proses-proses mental fenomena hipnosis berdasarkan teori tentang ketidaksadaran. Menurut psikoanalisis perilaku dan proses-proses mental manusia bersumber dari kesadaran (conscious mind) dan ketidak sadaran (unconscious mind). Teori psikoanalisis juga dibutuhkan untuk menjelaskan fenomena abreaction dalam hipnoterapi, yang dalam konsep psikoanalisis dikenal dengan katarsis emosi. Demikian juga dengan regression therapy sebagai salah satu teknik hipnoterapi bisa dijelaskan dengan teori psikoanalisis, bahwa masalah yang sedang dihadapi seseorang bisa berasal dari pengalaman traumatis masa lalu yang telah   dilupakan (berada pada pikiran bawah sadar) yang bersangkutan, yang bisa diungkap dengan teknik tertentu.  Sebelum mengembangkan teknik asosiasi bebas, dr. Sigmund Freud bersama dengan dr. Breuer pernah menggunakan teknik hipnois untuk mengungkap pengalaman traumatis  pasien histeria.    
3.  Teori Hubungan Stimulus – Respon (Behaviorisme) menyatakan bahwa perilaku organisme merupakan hubungan antara stimulus dengan respon (S – R Bond). Teori ini dapat dipakai untuk menjelaskan mekanisme terjadinya perubahan perilaku dan proses mental seseorang karena setelah diinduksi oleh hipnotis (stimulus) sehingga subjek masuk pada kondisi hipnosis (gelombang otak turun ke level theta).  Apa yang klien dengar dari hipnotis atau hipnoterapis merupakan stimulus sedangkan reaksi terhadap stimulus tersebut, yaitu mengikuti apa yang dikehendaki  oleh hipnotis merupakan respon sehingga klien bisa masuk pada kondisi theta. Teori stimulus – respon  juga dapat dipergunakan untuk menjelaskan salah satu hypnotherapeutic dalam hipnoterapi, yaitu anchor. Fenomena anchor pada dasarnya adalah terbentuknya hubungan yang kuat antara stimulus dengan respon.
4.  Teori Disasosiasi dari Psikologi Kognitif berguna untuk memperoleh pemahaman bahwa dalam kondisi trance (hypnosis state), seseorang tetap dapat berkomunikasi. Teori ini  menamai fungsi otak yang berkenaan dengan fungsi tersebut sebagai hidden observer (observer tersembunyi).     
5.  Teori Modalitas (Psikologi Umum) bermanfaat untuk menjelaskan kemampuan seseorang dalam merespon apa yang diterimanya tidak sama. Ada yang mudah terpengaruh sesuatu lewat indera penglihat (tipe visual). Yang lain mudah terpengaruh oleh apa yang didengar (tipe auditorial). Yang lain lagi lewat sentuhan (tipe kinestetik). Teori ini dalam praktik hipnosis  dipergunakan sebagai salah satu pertimbangan dalam melakukan induksi.
6.  Teori Psikologi Transpersonal dibutuhkan untuk menjelaskan fenomena hipnosis. Berdasarkan teori psikologi transpersonal, pengalaman hipnosis merupakan altered state of conscious (keadaan di luar kesadaran), yaitu perubahan kualitatif dalam kesadaran yang mengantar pada transformasi diri kearah yang positif.
E.   Perkembangan Hipnosis
Berkat adanya dukungan secara ilmiah dan munculnya banyak ahli dalam bidang ini, hipnosis saat ini telah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Di Amerika Di Amerika Serikat hipnosis telah dijadikan bagian dari psikologi dan dikembangkan sebagai salah satu teknik terapeutik. Asosiasi Psikologi Amerika (American Psychological  Association) bahkan telah membentuk Devisi 30 yang dikhususkan untuk mengembangkan pengetahuan dan penerlitian tentang hipnosis dan mengaplikasikannya dalam psikologi klinis. Tiga kali dalam setahun, asosiasi ini menerbitkan Psychological Hypnosis: A Bulletin of Division 30. Seorang doctor dalam bidang psikologi di Amerika Serikat, Laura A. King,  membahas fenomena hipnosis yang tertuang dalam bukunya yang berjudul The Science of Psychology: An Appreciate View.
Saat ini hipnosis telah diaplikasikan dalam berbagai bidang yaitu: hiburan (stage hypnosis), terapi (hypnotherapy), pembelajaran (hypnoteaching), pertolongan proses persalinan (hypnobirthing), mengungkap kejahatan (forensic hypnosis), pola asuh anak (hypnoparenting), pelatihan pengembangan diri (hypnotraining), penurunan berat badan (hynoslimming), penjualan (hypnoselling), praktik medis (hypnomedic), dst.
DAFTAR PUSTAKA
Atkinson (et al) Pengantar Psikologi Jilid 1. (Penterjemah: Wijaya Kusuma)
Gunawan, Adi W. 2007. Hypnosis: The Art of Subconscious Communication. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
King, Laura A. 2010. Psikologi Umum: Sebuah Pandangan Apresiatif. (Penterjemah: Brian Marwensdy). Jakarta: Salemba Humanika.
La Kahija, Y.F. 2007. Hipnoterapi: Prinsip-prinsip Praktik Psikoterapi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Prabowo, P.B. 2009. Hipnomedik, Hipneterapi, & Hipnopregnancy. Yogyakarta: Nuha Medika.
Semiun, Yustinus, OFM. 2006. Teori Kepribadian & Terapi Pskoanalitik Freud. Yogyakarta: Kanisius.
Solso (et al) 2008. Psikologi Kognitif. (Penterjemah: Mikael Rahardanto dan Kristianto B. Jakarta: Erlangga.

2 comments:

Hipnoterapi Semarang said...

Hipnosis yang sangat populer saat dulu sekarang juga masih tetap eksis

HIPNOTIS SEMARANG

NASI KUNING SEMARANG 0857.4013.9066 said...

bisa mensugesti seseorang ,semisal anak sekolah agar smengat belajar

Nasi Kotak Semarang

Post a Comment